Rabu, 26 September 2012

ALIRAN PSIKOLOGI KOGNITIF

A. Kognitivisme
Kognitivisme merupakan suatu bentuk materi yang sering disebut sebagai model kognitif atau perceptual. Di dalam model  ini tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan-tujuannya. Belajar  disini dipandang sebagai perubahan persepsi dan pemahaman,yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku. Teori ini juga menekankan pada gagasan bahwa bagian-bagian situasi saling berhubungan dengan konteks seluruh situasi tersebut.
Belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi dan faktor-faktor lain. Proses belajar yang meliputi pengaturan stimulus yang diterima dan menyesuaikannya dengan struktur kognitif yang terbentuk di dalam pikiran seseorang berdasarkan pengalaman- pengalaman sebelumnya.
B. Teori belajar kognitif
a. Teori belajar dari Peaget
Pendapat Peaget mengenai perkembangan proses belajar pada anak-anak adalah sebagai berikut:
  1. Anak mempunyai struktur mental yang berbeda dengan orang dewasa. Mereka bukan merupakan orang dewasa dalam bentuk kecil, mereka mempunyai cara yang khas untuk menyatakan kenyataan dan untuk menghayati dunia sekitarnya. Maka memerlukan pelayanan tersendiri dalam belajar.
  2. Perkembangan mental pada anak melalui tahap-tahap tertentu, menurut suatu urutan bagi semua anak.
  3. Walaupun berlangsungnya tahap-tahap perkembangan itu melalui suatu urutan tertentu, tetapi jangka waktu untuk berlatih dari satu tahap ke tahap yang lain tidaklah selalu sama pada setiap anak.
  4. Perkembangan mental anak dipengaruhi oleh empat faktor yaitu: kemasakan,  pengalaman, interaksi sosial dan equilibration (proses dari ketiga faktor diatas bersama-sama untuk membangun dan memperbaiki struktur mental).
Ada empat tahap perkembangan yaitu:
  • Tahap Sensori Motor (0-2 tahun) Anak yang berada pada tahap ini pengalaman diperoleh melalui perubahan fisik (gerakan anggota tubuh) dan sensori (koordinasi alat indera). Pada mulanya pengalaman itu bersatu dengan dirinya,  ini berarti bahwa suatu objek itu ada bila ada penglihatannya. Perkembangan selanjutnya ia mulai berusaha untuk mencari objek yang asalnya terlihat kemudian menghilang dari pandangannnya, atau perpindahan terlihat. Contoh : Anak mulai bisa berbicara meniru suara kendaraan.
  • Tahap Pra Operasi(2- 6 tahun) Pada tahap ini adalah tahap pengorganisasian operasi konkrit. Istilah operasi yang digunakan disini adalah berupa tindakan-tindakan kognitif, seperti mengklasifikasikan sekelompok objek, menata benda-benda menurut urutan tertentu dan membilang. Pada tahap ini pemikiran anak lebih banyak berdasarkan pengalaman konkrit dari pada pemikiran logis, sehingga jika ia melihat objek-objek yang kelihatan berbeda maka, ia mengatakan berbeda pula. Contoh : Jika ada 5 kelereng yang masa besar di atas meja lalu kelereng itu diubah letaknya menjadi agak berjauhan maka anak pada tahap ini akan mengatakan letak kelereng yang berjauhan jumlahnya lebih banyak.
  • Tahap Operasi Konkrit (6- 12 tahun) Anak – anak yang berada pada tahap ini umumnya sudah berada di sekolah dasar. Ditahap ini anak telah memahami operasi logis dengan bantuan benda- benda konkrit. Kemampuan ini terwujud dalam memahami konsep kekekalan, kemampuan untuk mengklasifikasikan dan serasi, mampu memandang suatu objek dari sudut pandang yang berbeda secar objektif dan berfikir reversibel. Contoh : seorang anak diberi 20 bola kayu, 15 buah diantaranya berwarna merah. Apabila ditanyakan masalah yang lebih banyak bola kayu atau bola berwarna merah?  Anak pada tahap pra operasional menjawab bawa bola merah lebih banyak, sedangkan anak pada operasi konkrit menjawab bola kayu lebih banyak dari pada bola merah.
  • Tahap Operasi Formal (12 tahun ke atas) Tahap ini merupakan tahap akhir dari perkembangan kognitif secara kualitas. Anak pada tahap ini sudah mampu mengadakan penalaran dengan menggunakan hal-hal abstrak. Penalaran yang terjadi dalma struktur kognitifnya telah mampu menggunakan simbol-simbol, ide-ide, abstraksi dan generalisasi. Ia telah memiliki kemampuan-kemampuan untuk melakukan operasi-operasi yang menyatakan hubungan di antara hubungan-hubungan, memahami konsep promosi. Contoh  : Anak dihadapkan pada dua gambar yaitu gambar “pak pendek” dan “pak tinggi” lalu ank disuruh mengukur tinggi kedua gambar tersebut dengan menggunakan batang korek api dan dengan klip. Di sini anak diminta untuk membandingkan hasil dari pengukuran tersebut.
b. Teori Kognitif dari Brunner

Rabu, 19 September 2012

Aliran Psikologi Tingkah Laku

Sebelum membahas psikologi tingkah laku alangkah lebih baik jika kita lebih dahulu membahas  tentang psikologi belajar mengajar, yang sifatnya masih umum. Psikologi belajar atau disebut pula dengan teori belajar adalah teori yang mempelajari perkembangan intelekual (mental) siswa. Di dalamnya terdiri dari dua hal, yaitu:
  1. uraian tentang apa yang terjadi dan diharapkan terjadi pada intelektual anak
  2. uraian tentang kegiatan intelektual anak mengenai hal-hal yang bisa dipikirkan pada usia tertentu
Psikologi mengajar atau teori mengajar berisi tentang petunjuk bagaimana semestinya mengajar siswa pada usia tertentu, bila ia sudah siap belajar. Jadi pada teori mengajar terdapat prosedur dan tujuan mengajar.
Jadi dalam proses belajar siswa merupakan subjek dan bukan objek, selanjutnya peristiwa belajar dan mengajar ini sesuai dengan istilah dalam kurikulum akan disebut pembelajaran, yang berkonotasi pada proses kinerja yang sinergi antara setiap komponennya.
Aliran Psikologi Tingkah Laku Menurut Para Ahli
A. Teori Thorndike
Edward l. Thorndike (1874-1949) mengemukan beberapa hukum belajar yang dikenal dengan sebutan law of effect. Menurut  hukum ini belajar akan lebih berhasil bila respon murid terhadap suatu stimulus segera diikuti dengan rasa senang atau kepuasan
teori belajar stimulus respon yang dikemukakan oleh thorndike ini disebut juga koneksionisme,teori ini mengatakan bahwa pada hakikatnya belajar merupakan proses pembentukan hubungan antara stimulus dan respon. Terdapat beberapa dalil:

  1. Hukum Kesiapan (Law Of Readiness) Yaitu menerangkan bagaimana kesiapan seorang anak dalam melakukan suatu kegiatan. Seorang anak yang mempunyai kecenderungan untuk bertindak atau melakukan kegiatan tertentu dan kemudian dia benar melakukan kegiatan tersebut, maka tindakannya akan melahirkan kepuasan bagi dirinya. Tindakan-tindakan lain yang dia lakukan tidak menimbulkan kepuasan bagi dirinya.
  2. Hukum Latihan (Law Of Exercise). Hukum latihan menyatakan bahwa jika hubungan stimulus respon sering terjadi, akibatnya hubungan akan semakian kuat. Sedangkan makin jarang hubungan stimulus respon dipergunakan maka makin lemahnya hubungan yang terjadi.
  3. Hukum Akibat (Law Of Effect) Dalam hukum akibat ini dapat disimpulkan bahwa kepuasan yang terlahir dari adanya ganjaran dari guru akan memberikan kepuasan bagi anak, dan anak

Trigonometri

Jenis-Jenis Kebutuhan Manusia

Kebutuhan adalah salah satu aspek psikologis yang menggerakkan mahluk hidup dalam aktivitas aktivitasnya dan menjadi dasar (alasan) berusaha. Pada dasarnya, manusia bekerja mempunyai tujuan tertentu, yaitu memenuhi kebutuhan. Kebutuhan tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari. selama hidup manusia membutuhkan bermacam-macam kebutuhan, seperti makanan, pakaian, perumahan, pendidikan, dan kesehatan. Kebutuhan dipengaruhi oleh kebudayaan, lingkungan, waktu, dan agama. Semakin tinggi tingkat kebudayaan suatu masyarakat, semakin tinggi / banyak pula macam kebutuhan yang harus dipenuhi.

Setiap makhluk hidup memerlukan segala sesuatu untuk mempertahankan hidupnya. Demikian pula manusia, ia memerlukan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan adalah segala sesuatu yang diperlukan manusia untuk mencapai kemakmuran. Kebutuhan manusia ternyata tidak terbatas. Mengapa kebutuhan manusia tidak terbatas? Sesuai dengan kodratnya, manusia selalu merasa kekurangan. Manusia selalu menginginkan kemakmuran. Ketika belum mempunyai rumah, seseorang ingin punya rumah. Tentu berikut segala macam isinya.  

Apakah cukup sampai di situ? Tidak! Kenyataan menunjukkan bahwa jika suatu kebutuhan sudah terpenuhi, maka kebutuhan lainnya akan muncul. Untuk sementara waktu, orang tadi mungkin sudah merasa senang memiliki rumah beserta semua isinya. Namun, dia masih ingin memiliki mobil, villa di Puncak, atau flat di Singapura. Jika didaftar, masih ada sederet lagi jenis kebutuhan manusia yang harus dipenuhi. Terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu.

Kebutuhan manusia beraneka ragam dan tidak terbatas jumlahnya yang dapat dibedakan berdasarkan tingkat kepentingannya, waktunya, subjek dan sifatnya.

1. Tingkat kepentingannya  
  • Kebutuhan Primer. Kebutuhan yang harus dipenuhi agar kelangsungan hidup manusia tidak terganggu. Contoh: Sandang, pangan dan Papan.   
  • Kebutuhan Sekunder. Kebuthan yang bersifat tambahan atau tingkat ke dua. Kebutuhan sekunder akan terpenuhi apabila kebutuhan primer sudah terpenuhi. Contoh: Kebuthan akan Lemari Es, Perabot rumah tangga, TV, dsb.
  • Kebutuhan Tersier Kebutuhan tersier akan muncul apabila kebutuhan premer dan skunder telah terpenuhi. Atau biasa disebut dengan kebutuhan mewah atau lux. Contoh: Rumah mewah, mobil me wah, dsb.  

Analisis Real 1

Pada semester ini (semester V), aku mengambil mata kuliah Analisis Riil 1 sebagai salah satu matakuliah wajib yang harus diambil oleh mahasiswa jurusan matematika. Berhubung untuk mendapatkan buku sebagai bahan referensinya sangat susah untuk didapatkan. Alasannya karena susah di dapat di samping buku tersebut masih dalam bahasa aslinya, yakni bahasa Inggris, alias belum belum diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia tercinta. Karena itu aku berinisiatif dengan berselancar di dunia maya, utak sana, utak sini, atas bantuan MBAH GOOGLE, akhirnya saya nemuin buku referensinya.
yakni buku Intrduction ti Real Analysis Third Edition karangannya Om Robert G. Bartle dan Ronald R. sherbert, beserta diktat pengantar Analysis Real 1 oleh M. Zaki Ryanto, M.Si.Bagi teman-teman yang membutuhkannya juga silahkan di Download di sini. Gratis. Kenapa? Karena saya juga mendapatkannya gratis. hahaa… :)
Berikut referensi wajib Mata Kuliah Analisis real 1 (Bisa langsung di download);
  1. Diktat Pengantar analisis Real 1, karangan M. Zaki Ryanto, M.Si.
  2. Intrduction ti Real Analysis Third Edition, karangan Robert G. Bartle dan Ronald R. sherbert
Nah, Untuk teman-teman yang agak kurang paham dengan bahasa Inggris, buku Intrduction ti Real Analysis Third Edition ada yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Menurut saya, lumayan membantu untuk lebih mudah memahaminya. Dan kebetulan saya juga sudah mendapatkannya, per BAB lagi. sangat bangga rasanya. Makanya juga saya bagi-bagi di sini. Silahkan di

PENGERTIAN PENDIDIKAN

  1. Secara Etimologi/Kebahasaan
    Pendidikan berasal dari kata “didik”, kemudian mendapat awalan ke- dan akhiran –an, sehingga menjadi kata pendidikan, kemudian berubah menjadi kata kerja, yaitu “mendidik”.
    Mendidik adalah membantu anak (siswa) untuk menguasai aneka pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diwarisi dari keluarga dan masyarakat.

    Tugas utama seorang guru ada 3, yaitu:
  • Mengajar (Kognitif)
  • Mendidik (psikomotor)
  • Melatih (afektif).
Istilah pendidikan muncul pertama kali dari bahasa Yunani, yaitu:
  • “PAIDAGOGIK” (Ilmu menuntun anak)
  • “PAIDAGOGIA” (Pergaulan dengan anak-anak)
  • “PAIDAGOS” (Orang yang menuntun).
  1. Menurut para ahli/Pakar
  • Crow and Crow
    Pendidikan adalah proses yang berisikan berbagai macam bentuk kegiatan yang cocok bagi individu untuk kehidupan sosialnya dari generasi ke generasi.
  • John Dewey
    Pendidikan adalah suatu proses membentuk kecakapan-kecakapan fundamental, baik secara intelektual maupun secara emosional ke arah alam dan sesame manusia.
  • J. J. Roufseu
    Pendidikan adalah usaha member bakat yang tidak ada pada masa kanak-kanak akan tetapi dibutuhkannya pada masa dewasa.
  • John S. Brubacher
    Pendidikan adalah sebagai proses dalam mana potensi-potensi, kemampuan, kapasitas yang dapat dipengaruhi oleh kebiasaan yang baik dan dibantu dengan alat yang disusun sedemikian rupa untuk menolong orang lain dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Jumat, 30 Desember 2011

INTERNALISASI PARADIGMA EMPAT PILAR ( SENDI ) PENDIDIKAN

A.           Interaksi Belajar-Mengajar
Lingrend (dalam Usman, 2000:25), mengatakan bahwa ada empat pola komunikasi dalam proses interaksi guru dengan siswa seperti digambarkan dalam diagram berikut ini:
Jenis-Jenis Interaksi Dalam belajar-Mengajar :
1.    Komunikasi satu arah Komunikasi dua arah, ada balikan guru, tidak ada interaksi diantara siswa.
2.    Komunikasi dua arah, Komunikasi banyak arah, Ada balikan bagi guru interaksi optimal antara guru Siswa berinteraksi dengan siswa, dan antara siswa dengan siswa lainnya.
Mengacu pada keterangan di atas, sudah barang tentu proses belajar-mengajar merupakan kegiatan yang integral dengan menggunakan interaksi resipokral dan memanfaatkan konsep komunikasi multi arah. Namun demikian realitas di lapangan, guru masih cenderung mengadakan interaksi searah, yang berdampak pada proses pembelajaran teacher centered.
 Mengoptimalkan interaksi multi arah bukanlah hal yang mudah. Namun ada beberapa kiat yang dapat digunakan guru, yakni dengan sistem TANDUR (De Porter, 2002:89), yang meliputi:
a)    TUMBUHKAN
Tumbuhkan minat dengan memuaskan “Apakah Manfaatnya BagiKu” (AMBAK) dan manfaatkan kehidupan pelajar.
b)    ALAMI
Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar.
c)    NAMAI
Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi sebagai sebuah masukan
d)   DEMONSTRASIKAN
Sediakan kesempatan bagi pelajar untuk menunjukkan bahwa mereka tahu.
e)    ULANGI
Tunjukkan pelajar cara-cara mengulangmateri dan menegaskan, “Aku tahu bahwa aku memang tahu.”
f)     RAYAKAN
Pengakuan untuk menyelesaikan, partisipasi, dan pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan
 B.            Pembelajaran Kreatif
Jika ditelaah lebih mendalam, gambaran pengoptimalan interaksi dengan sistem TANDUR yang diadopsi dari Buku Quantum Teaching, agaknya identik dengan potret pembelajaran dengan karakteristik PAKEM (pembelajaran aktif, kreatif, dan menyenangkan). Secara kontekstual, pembelajaran ala PAKEM berisi serangkaian kegiatan, yang meliputi:
a)      Berorientasi pada keaktifan, kreativitas, dan kemandirian siswa.
b)      Siswa perlu melakukan pengamatan dan merumuskan dugaan awal.
c)      Siswa perlu melakukan percobaan pengujian dan menarik kesimpulan dari percobaannya.
d)     Melaporkan hasil temuannya secara langsung (otentik) dengan bimbingan guru yang aktif bertindak sebagai fasilitator dan motivator (Depdiknas, 2001:10).
Realitas di lapangan, agaknya guru kurang tertarik untuk menerapkan pembelajaran ala PAKEM lantaran memilih pembelajaran yang hanya menghafal semata. Potret pembelajaran yang selama ini diterapkan guru cenderung berkutat pada proses pembelajaran yang hanya memusatkan perhatiannya pada kemampuan otak kiri siswa saja. Sebaliknya, kemampuan otak kanan kurang ditumbuhkembangkan dan bahkan dapat juga dikatakan tidak pernah dikembangkan secara sistematis.
Kondisi itu menyebabkan pendidikan nasional tidak mampu menghasilkan orang-orang yang mandiri, kreatif, memiliki self awareness, dan orang-orang yang mampu berkomunikasi secara baik dengan lingkungan fisik, sosial dalam komunitas kehidupannya. Akibatnya, dilihat dari tingkat pendidikan tinggi, pengangguran sarjana yang secara formal termasuk kelompok “terdidik” semakin meluas (Suyanto, 2000:7).
Sebagai gambaran, berikut ini dibandingkan kemampuan otak kanan dengan kemampuan otak kiri.
Proses di belahan otak kiri
1.      Terjadi pada proses penemuan yang bersifat bagian-bagian dari suatu komponen.
2.      Proses berpikir analitis.
3.      Proses berpikir yang mementingkan tata urutan sekuensial dan serial.
4.      Proses berpikir temporal, terikat pada waktu kini.
5.      Proses berpikir verbal, matematis, notasi musikal.
            Proses di belahan otak kanan
1.      Tertarik pada proses penginte-grasian dari bagian-bagian suatu komponen menjadi satu kesatuan yang bersifat utuh dan menyeluruh.
2.      Proses berpikir yang bersifat relasional, konstruksinal, dan membangun suatu pola.
3.      Proses berpikir simultan, dan parallel.
4.      Proses berpikir lintas ruang, tidak terikat pada waktu kini.
5.      Proses berpikir yang bersifat visual, lintas ruang, musikal.
C.            Empat Pilar Pendidikan
Dalam buku Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (2001:13) paradigma pembelajaran tersebut akan menciptakan proses belajar-mengajar yang efektif, yakni: belajar mengetahui (learning to know), belajar bekerja (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be).
1.      Learning to know ( belajar mengetahui )
Konsep “learning to know” menyiratkan makna bahwa pendidik harus mampu berperan sebagai informator, organisator, motivator, diretor, inisiator, transmitter, fasilitator, mediator, dan evaluator bagi siswanya, sehingga peserta didik perlu dimotivasi agar timbul kebutuhan terhadap informasi, keterampilan hidup, dan sikap tertentu yang ingin dikuasainya. Yusak (2003) mengatakan bahwa secara kreatif menguasai instrumen ilmu dan pemahaman yang terus berkembang, umum atau spesifik, sebagai sarana dan tujuan , dan memungkinkan terjadinya belajar sepanjang hayat.
Untuk mengimplementasikan konsep “ learning to know” guru harus mampu menempatkan dirinya sebagai fasilitator. Di samping itu guru tuntut untuk mampu berperan ganda sebagai kawan berdialog bagi siswanya dalam rangka penguasaaan pengetahuan siswa.
2.      Learning to do ( belajar bekerja )
Konsep “learning to do” menyiratkan bahwa siswa dilatih untuk sadar dan mampu melakukan suatu perbuatan atau tindakan produktif dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Terkait dengan hal tersebut maka proses belajar-mengajar perlu didesain secara aplikatif agar keterlibatan peserta didik, baik fisik, mental dan emosionalnya dapat terakomodasi sehingga mencapai tujuan yang diharapkan.
 Sekolah sebagai wadah  manyarakat seharusnya memfasilitasi siswanya untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimiliki,serta bakat dan minatnya agar “learning to do”(belajar melakukan sesuatu) dapat terealisasi.Walau sesungguhnya bakat dan minat juga tergantung dengan lingkungan.Seperti kita ketahui bersama bahwa keterampilan merupakan sarana untuk menopang kehidupan seseoarng bahwa keterampilan lebih dominan dari pada pengauasaan pengetahuan semata.
3.      Learning to live together ( belajar hidup bersama )
Konsep “learning to live together” merupakan tanggapan nyata terhadap arus individualisme serta sektarianisme yang semakin menggejala dewasa ini. Fenomena ini bertalian erat dengan sikap egoisme yang mengarah pada chauvinisme pada peserta didik sehingga melunturkan rasa kebersamaan dan harga-menghargai. Memahami, menghormati dan bekerja dengan orang lain, mengakui ketergantungan, hak dan tanggungjawab timbal balik yang melibatkan partisipasi aktif warga, tujuan bersama menuju kerekatan sosial, perdamaian dan semangat kerjasama demi kebaikan bersama.

Terjadinya proses “Learning to live together” pada pilar yang ke empat ini ,kebiasaan hidup bersama,saling menghargai ,terbuka me,beri dan menerima perlu dikembangkan di sekolah.Kondisi seperti inilah yang memungkinkan tumbuhnya sikap saling pengertian antar ras,suku dan agama.jika seseoarang hendak memahami orang lain,maka seseorang itu harus pertama-tama mengenal dirinya.Manusia memperoleh identitas baru menonjolkan hal-hal yang sama pada manusia bukan perbedaan antar mereka
4.      Learning to be ( belajar menjadi diri sendiri )
Konsep learning to be, perlu dihayati oleh praktisi pendidikan untuk melatih siswa agar mampu memiliki rasa percaya diri (self confidence) yang tinggi. Kepercayaan merupakan modal utama bagi siswa untuk hidup dalam masyarakat. Pengembangan dan pemenuhan manusia seutuhnya yang terus “berevolusi”, mulai dengan pemahaman diri sendiri, kemudian memahami dan berhubungan dengan orang lain. Menguak kekayaan tak ternilai dalam diri.
Konsep “Learning to be”(belajar untuk menjadi seseorang)hal ini erat sekali kaitannya dengan bakat,minat,perkembangan fisik,kejiwaan,tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungan, misalnya bagi siswa yang agresif akan menemukan jati dirinya jika diberikan kesempatan yang cukup luas untuk berkreasi. Dan sebaliknya,bagi siswa yang pasif,peran guru sebagai kompas penunjuk arah sekaligus menjadi fasilator sangat diperlukan untuk menumbuhkembangkan potensi dirisecara utuh dan maksimal.



Daftar  Pustaka
http://ilmunyata.blogspot.com